Tuesday, October 8, 2019

Tragedi JM dan Pentingnya Menjadi Perempuan Berprinsip di Era Modern

Fenomena kekerasan terhadap perempuan masih menjadi awan mendung dalam keseharian kita. Di balik kemajuan zaman yang serba modern, realitas pahit menunjukkan bahwa keselamatan dan kehormatan kaum hawa masih sering terancam. Perempuan kerap dipandang lemah, bahkan tak jarang hanya dijadikan objek oleh mereka yang hatinya jauh dari nilai kemanusiaan. Namun, di balik kerentanan tersebut, tersimpan sebuah kekuatan jati diri yang perlu kita gali kembali.

Realitas Pahit: Antara Kerentanan dan Kekejaman
Keprihatinan ini bukanlah tanpa alasan. Belum lama ini, tragedi memilukan terjadi di Kabupaten Polewali Mandar. Seorang perempuan berinisial JM ditemukan tak bernyawa dengan kondisi yang sangat menyayat hati. Berdasarkan hasil otopsi, diduga kuat korban mengalami tindak kekerasan sebelum akhirnya nyawanya direnggut secara paksa.

Tragedi JM hanyalah satu dari sekian banyak potret kelam yang menempatkan perempuan sebagai sasaran empuk kebiadaban. Dunia luar terkadang terasa tidak ramah bagi mereka yang dianggap tak berdaya. Realitas yang menyesakkan ini menuntut kita untuk memahami bahwa perlindungan terhadap perempuan bukan hanya soal hukum fisik, melainkan soal memulihkan martabat mereka sebagai pilar kehidupan.

Menilik Peran Perempuan sebagai Pilar Peradaban
Berangkat dari realitas tersebut, kita perlu menyadari betapa krusialnya posisi perempuan dalam tatanan dunia. Menjaga perempuan bukan sekadar bentuk perlindungan terhadap kaum yang dianggap lemah, melainkan bentuk penghormatan terhadap kunci kemajuan sebuah zaman.

Perempuan adalah pilar peradaban. Dari rahim merekalah lahir generasi penerus yang memegang estafet masa depan. Jika seorang perempuan memiliki iman yang kokoh dan prinsip yang berkualitas, maka lahirnya "Generasi Emas" bukan lagi sekadar angan-angan. Namun, kemuliaan peran ini sering kali terbentur oleh stigma masyarakat yang masih melihat perempuan sebagai makhluk bodoh yang mudah dipermainkan. Untuk mematahkan stigma tersebut, seorang perempuan membutuhkan sebuah teladan keteguhan yang melampaui zaman.

Belajar dari Keteguhan Prinsip Asiyah r.a.
Sejarah Islam telah memberikan jawaban atas tantangan tersebut melalui sosok-sosok mulia yang diabadikan dalam Al-Qur’an. Salah satunya adalah Asiyah r.a., istri Fir’aun, yang membuktikan bahwa kekuatan prinsip mampu mengalahkan penindasan fisik yang paling kejam sekalipun.

Allah SWT berfirman, 

"Dan Allah membuat istri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berdoa: 'Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di samping-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya...'" (QS. At-Tahrim: 11)

Asiyah ra adalah simbol bahwa kemuliaan perempuan tidak bergantung pada siapa suaminya atau seberapa mewah istananya, melainkan pada keteguhan tauhidnya. Keteguhan prinsip inilah yang menjadi "perisai" batin bagi setiap muslimah. Jika Asiyah mampu memilih surga di tengah siksaan, maka kita pun harus mampu memilih kemuliaan di tengah godaan dunia yang fana.

Memilih Menjadi Sebaik-baik Perhiasan Dunia
Kesadaran akan keteguhan prinsip ini membawa kita pada sebuah pilihan hidup. Di era yang serba visual, sering kali kita terjebak pada definisi cantik yang semu—gaya hidup mewah dan perhiasan duniawi yang hanya memanjakan mata. Namun, sebagai perempuan beriman, kita harus berani bertanya: apakah kita hanya ingin menjadi "pemanis" dunia yang sementara dan akan habis dimakan waktu?

Rasulullah SAW telah memberikan kunci kesuksesan yang melampaui standar kecantikan manusia:

“Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan, menjaga kemaluannya, dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai.” (HR. Ahmad)

Hadis ini menegaskan bahwa sebaik-baik perhiasan bukanlah berlian yang melekat di tubuh, melainkan kesalehan yang melekat di hati. Inilah "mahkota" sejati yang akan menjaga martabat perempuan, baik di hadapan manusia maupun di hadapan Sang Pencipta.

Penutup : Membangun Benteng Melalui Perbaikan Diri
Pada akhirnya, untuk menghindari diri dari menjadi korban keadaan, seorang perempuan harus aktif membangun benteng perlindungannya sendiri melalui perbaikan diri (ishlahun nafs). Menjadi muslimah sholehah bukan sekadar status, melainkan proses belajar tanpa henti untuk memahami batasan syariat dalam berpakaian, bertingkah laku, dan berinteraksi. Ketika seorang muslimah berpegang teguh pada "tali" Allah, ia tidak hanya menjadi cerdas secara intelektual, tetapi juga berwibawa secara spiritual.

Sebagaimana pesan dalam Al-Qur'an,

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah..." (QS. Ali 'Imran: 103)

Semoga kita semua dikuatkan untuk menjadi perempuan yang tidak hanya cantik secara lahiriah, tetapi juga kokoh secara prinsip. Mari kita buktikan bahwa perempuan bukanlah makhluk yang mudah dipermainkan, melainkan penjaga kehormatan yang siap melahirkan peradaban mulia.

No comments:

Dialog Hati di Bulan Suci: Menemukan Makna Ibadah dalam Kehamilan

Ujian di Gerbang Penantian Kehamilan pertama bagi seorang perempuan adalah sebuah gerbang menuju fase kehidupan yang sepenuhnya baru. Campur...