Wednesday, February 4, 2026

Dialog Hati di Bulan Suci: Menemukan Makna Ibadah dalam Kehamilan

Ujian di Gerbang Penantian

Kehamilan pertama bagi seorang perempuan adalah sebuah gerbang menuju fase kehidupan yang sepenuhnya baru. Campuran antara rasa syukur dan kecemasan sering kali hadir bersamaan, apalagi jika anugerah ini telah lama dinantikan. Tidak berselang lama setelah kebahagiaan itu datang, perasaan overthinking dan moodswing mulai menjadi kawan sehari-hari, yang ironisnya sering kali diikuti oleh munculnya perasaan bersalah. Secara medis, sebenarnya siklus emosi yang naik-turun ini adalah kondisi normal akibat lonjakan hormon estrogen dan progesteron. Namun, bagi seorang calon ibu, pergolakan batin ini terasa lebih rumit daripada sekadar penjelasan ilmiah, terutama ketika ia harus berhadapan dengan ekspektasi spiritual di bulan suci. 

Kesadaran Baru di Tengah Kepayahan Fisik

Kondisi tersebut menjadi tantangan nyata saat saya menjalani Ramadhan pertama dalam kondisi hamil besar. Di tengah fisik yang kian payah, muncul kekhawatiran yang mendalam apakah saya mampu beribadah semaksimal dulu? Saya merindukan semangat puasa yang membara, konsistensi shalat malam, hingga target tilawah yang tak kenal lelah. Rasa takut akan kehilangan momentum pahala Ramadhan sempat membayangi hari-hari saya, hingga akhirnya sebuah pesan sejuk datang dari bidan yang mendampingi. Beliau mengingatkan bahwa kondisi berat yang dialami ibu hamil—baik secara fisik maupun mental—adalah ladang amal shalih. Ada pahala khusus yang Allah siapkan bagi setiap tetes keringat dan rasa lelah yang dirasakan seorang ibu.

Kesadaran ini membawa saya kembali pada ingatan tentang bagaimana perjalanan ini bermula. Kehamilan ini adalah jawaban nyata dari doa-doa yang saya langitkan beberapa tahun terakhir, yang Allah kabulkan setelah momen umroh bersama suami. Perjalanan spiritual itu mengajarkan satu hal penting: jika Allah mampu mengabulkan doa yang telah lama dinantikan, maka Dia jugalah yang akan memampukan saya menjalani ibadah dalam keterbatasan ini. Keyakinan tersebut kemudian mengubah cara pandang saya terhadap Ramadhan. Saya mulai memahami bahwa momentum terbaik ini tidak hanya tentang ibadah fisik, melainkan sebuah kesempatan emas untuk memperdalam ibadah hati.

Menemukan Hakikat Ibadah 

Peralihan fokus dari kekuatan fisik ke ketulusan hati inilah yang menjadi kunci ketenangan. Saya menyadari bahwa nilai kesabaran, ketawakkalan, dan keikhlasan memiliki kedudukan yang sangat spesial di sisi Allah. Sering kali, kita menemui orang yang berhasil menyelesaikan seluruh daftar ceklis ibadahnya namun hatinya tetap merasa gelisah. Hal itu terjadi bukan karena ibadahnya kurang, melainkan mungkin karena ada bagian terpenting yang terabaikan, yakni aspek hati. Dalam kondisi hamil besar, saat fisik tak lagi mampu berdiri tegak dalam waktu lama untuk menegakkan tiang-tiang ibadah, hatilah yang mengambil alih peran tersebut. Selama hati masih mau dan mampu berpaut pada-Nya, nilai pahala tetap akan mengalir sempurna.

Pada akhirnya, kehamilan bukanlah penghalang untuk meraih keberkahan Ramadhan, melainkan sebuah jalan setapak berbeda menuju rida-Nya. Meski terasa berat, jangan sampai kepayahan ini membuat kita putus asa atau merasa kehilangan kesempatan beribadah. Justru dengan menjalaninya secara sabar dan ikhlas, kita sedang mempraktikkan bentuk ibadah yang sangat tinggi nilainya. Kehamilan itu sendiri adalah ibadah agung yang Allah takdirkan khusus untuk memuliakan derajat perempuan sekaligus sebuah tugas suci di mana setiap helaan napas dan kesabaran sang ibu dicatat sebagai kebaikan di sisi-Nya. 

In syaa Allah

Thursday, June 12, 2025

Menjadi Perempuan Luar Biasa: Mengasah Perasaan dan Memilih dengan Iman dan Ilmu

 Pernah dengar ungkapan "Jadilah wanita luar biasa, jangan jadi wanita biasa". Ya. Hidup ini, memang tentang pilihan. Kita bebas memilih apa dan menjadi seperti apa yang kita mau.

Siapapun yang hidup berdasar ilmu dan Allah beri taufiq, akan mampu memilih sesuai apa yang Allah mau, bukan hanya sekadar apa yang dia mau. Keinginan Allah dan RasulNYA, senantiasa menjadi prioritas "ingin"nya juga dalam setiap pilihan.

Lantas, muncul pertanyaan bagaimana Allah menginginkan wanita memilih sesuatu dalam hidupnya? Jawabannya, sebagaimana Allah mengisahkan wanita-waniya ahli iman dalam "memilih" apa-apa untuk jalan hidupnya. Pun, sebaliknya jangan menjadi seperti wanita-wanita yang menduakan Allah dalam hampir semua pilihannya. Keduanya, sama-sama Allah abadikan dalam Al-Quran. 

Kemudian, muncul di benak saya sisi lain soal memilih. Allah menciptakan perempuan sebagai makhluk sarat rasa. Tentulah Dia meletakkan dominan rasa pada diri perempuan bukan sesuatu yang sia-sia. Subhanallah, Maha Suci Allah pasti punya maksud dan Allah berkuasa atas semua makhluk ciptaan-Nya. 

Sosok-sosok wanita ahli surga ternyata dalam perjalanan hidupnya, mengalami berbagai dinamika rasa. Mereka dengan sadar mengasah potensi rasa itu dengan cara dan untuk tujuan yang Allah sukai. Ketahuilah, islam bukan agama yang ingin mematikan rasamu wahai Muslimah. Syariat mengarahkannya pada perwujudan yang semestinya dan itu menyelamatkanmu. 

Wanita luar biasa, tentu boleh dan berhak menangis mengadukan rasa pada Rabbnya yang Maha Lembut dan paling mengerti perasaannya. Meski begitu, kamu tetap luar biasa. Wanita luar biasa, akan sedih bahkan kecewa juga. Namun keluh kesah dan khawatirnya, pertama kali dia sampaikan pada Rabb yang Maha Kasih dan selalu mendengar doa-doanya. Meski begitu, kamu tetap luar biasa. 

Bahkan Rasulullah saw, sangat menghargai perasaan wanita. Sampai-sampai ini menjadi salah satu wasiat terakhirnya sebelum beliau saw wafat, yakni agar kaum laki-laki memperhatikan kondisi wanita-wanita mereka. 'Kondisi' tentu dalam makna lahir maupun bathin. 

Maka, menjadi wanita luar biasa bukan berarti tanpa perasaan -padahal itu fitrahnya- Saya jadi teringat kata-kata "wanita yang tidak tersibukkan dengan ilmu akan tersibukkan dengan perasaan". Benar sekali. Tapi jangan lupa, bahwa wanita hebat, juga hebat karena perasaan bukan? Perasaan mau berkorban (ibunda Khadijah misalnya), perasaan mau menanggung sakit (ibunda Maryam misalnya), perasaan mau menunggu dengan sabar (Siti Hajar misalnya) dan masih banyak lagi. Lantas, bagi saya, perasaan seperti dua mata pisau. Dalam waktu bersamaan, punya dua sisi berlawanan. Tinggallah ilmu dan taufiq dari Allah yang akan menuntun seorang wanita memilih, hendak dia arahkan kemana gejolak-gejolak perasaannya. 

Pilihlah menangis, jika itu membuatmu jauh lebih lega. Pilihlah memaafkan, sebab itu membuatmu jauh lebih kuat. Pilihlah diam, jika itu membuatmu selamat. Pilihlah merenung, sebab itu membuatmu jernih memandang. Kamu, wanita dengan sejuta rasa, pilih dan putuskanlah apapun dengan iman dan ilmu, lalu niatkan karena Allah dan RasulNYA. Islam ingin rasamu tetap ada, menjadi bagian dari dirimu yang sedang tumbuh dan belajar. Jangan matikan perasaanmu, jangan bunuh sensitifitas mu. 

Sebab, tipis sekali perbedaan antara perempuan luar biasa namun mati rasa, dengan perempuan luar biasa yang mengasah perasaannya. Kamu tentu ingin, masuk surga membawa hati yang selamat bukan?

Friday, October 25, 2019

Tentang kita #2

assalamualikum warahmatullah wabarakatuh,
salam sejahtera untuk muda-mudi sholeh dan sholehah dimanapun kalian berada.
hari ini, alhamdulillah Allah telah memudahkanku menulis lagi, semoga apa yang akan aku tulis dapat memberi banyak manfaat bagimu, saudara seimanku aamiin allahumma aamiin.

segala puji hanya milik Allah SWT, yang telah menjadikan hidupmu dan hidupku dalam kenikmatan yang begitu banyak, alhamdulillah.
dan tentu, tak lupa sholawat beriring salam untuk sang revolusioner sejati, Rasulullah Muhammad SAW.


Dialog Hati di Bulan Suci: Menemukan Makna Ibadah dalam Kehamilan

Ujian di Gerbang Penantian Kehamilan pertama bagi seorang perempuan adalah sebuah gerbang menuju fase kehidupan yang sepenuhnya baru. Campur...